Lorem Ipsum adalah teks (dengan sengaja) tidak bermakna yang tampak seperti bahasa Latin, yang digunakan desainer dan developer dalam mockup alih-alih konten asli. Menariknya, bahasa Indonesia sendiri memakai alfabet Latin yang sama persis dengan yang dipakai Lorem Ipsum — jadi hurufnya terasa akrab, tapi kata-katanya tetap sepenuhnya tidak dikenali, karena bahasa Latin dan bahasa Indonesia (rumpun Austronesia) tidak berkerabat sama sekali. Sinyal "ini teks pengisi" di sini datang murni dari kosakata yang asing, bukan dari bentuk hurufnya.
Dari mana teks ini berasal
Kutipan standar Lorem Ipsum adalah fragmen yang terdistorsi dari risalah Latin karya Cicero, "Tentang Batas Kebaikan dan Kejahatan" (45 SM). Kata-katanya disusun ulang, dipotong, dan sebagian diubah cukup jauh sehingga kehilangan makna yang koheren, sambil tetap mempertahankan distribusi alami bahasa Latin dalam hal panjang kata dan frekuensi huruf.
Mengapa sengaja menggunakan teks tanpa makna
Alasan utamanya adalah menghindari perhatian yang teralihkan ke konten. Jika teks dalam bahasa asli pembaca dimasukkan ke mockup, perhatian akan secara tidak sengaja beralih ke membaca dan menilai makna, alih-alih komposisi visual: ukuran font, jarak baris, panjang baris. Pseudo-Latin terbaca sebagai "blok teks generik", tanpa mengalihkan perhatian dari desain.
Batasan pendekatan ini
Lorem Ipsum bekerja baik untuk menilai komposisi visual murni, tapi kurang baik untuk menguji bagaimana sebuah tata letak akan berperilaku dengan konten asli: judul yang sangat panjang, label tombol pendek, atau teks dalam bahasa lain dengan panjang kata rata-rata berbeda.
Untuk apa ini dibutuhkan
- Mengisi mockup atau prototipe dengan teks untuk ditunjukkan ke klien sebelum konten asli ditulis.
- Menguji tata letak dengan berbagai panjang teks tanpa menunggu copywriting.
- Dengan cepat membuat teks placeholder dengan panjang tertentu untuk data uji.
Mengapa terkadang lebih baik menghindari bahasa Latin klasik
Klien dan anggota tim non-teknis terkadang menganggap Lorem Ipsum sebagai teks yang "belum selesai" atau tersisip secara tidak sengaja, karena mereka tidak mengenalinya sebagai placeholder yang disengaja. Dalam kasus seperti ini, desainer terkadang menggunakan pengisi "nyata" dalam bahasa Indonesia (misalnya, kutipan dari teks publik) — hasilnya kurang netral dari segi panjang kata, tetapi langsung dikenali sebagai konten sementara.